Friday, 13 November 2009 07:00 administrator

Biasanya, banyak pendaki yang mendirikan perkemahan di sekitar telaga, karena tersedianya air tawar yang sangat melimpah. Telaga Dewi adalah bekas kawah yang ketika itu Gunung Merapi Singgalang, masih aktif. Dan udara cerah, hanya sesekali saja.
Dan ketika kabut reda, kami secepatnya memutuskan meninggalkan Telaga Dewi ini menuju puncak bukit Singgalang. Dibandingkan ketiga track yang sudah kami lalui, track terakhir ini cenderung lebih mudah.
Tidak ada lagi tanjakan terjal yang menguras tenaga, hanya harus waspada karena jalur ini berlumut dan banyaknya batang kayu yang rubuh dan saling tumpang tindih. Disini tumbuhan lumut memang luar biasa lebat dan luas. Seolah pemandangan disini membawa Kami menerobos lorong waktu dan tiba pada jaman purba di era tundra, berjuta-juta tahun yang lalu. Biopita atau lumut ini, ikut berperan pada pembentukan tanah.
Yang menarik di puncak ini adalah kurangnya sinar matahari akibat terhalang rapat pepohonan, sehingga udara semakin lembab dan tempat yang cocok bagi tumbuhnya lumut. Lumut adalah tumbuhan yang unik. Yang mampu melakukan fotosinthesa dengan cepat tanpa memerlukan bantuan sinar matahari yang banyak.

Rasa capai hilang serta merta ketika berada di puncak. Tidak ada lagi pepohonan dan batu cadas, yang menghalangi pemandangan. Udara sangat dingin, bahkan menurut pemandu, pada saat-saat tertentu bisa mencapai 5 derajat celcius.
Dari permukaan yang tidak terlalu luas ini, pemandangan Kota Bukit Tinggi dan Ngarai Sianok menjadi sangat menarik. Dari sini juga kami bisa melihat puncak Gunung Merapi yang seolah berdiri sama tinggi dengan Gunung Singgalang. Sama seperti gunung merapi di Pulau Jawa, Gunung Merapi Sumatera juga masih aktif. Dari puncak Singgalang ini, Kami bisa melihat asap tipis keluar dari kawahnya. Kami pun menginap semalam di puncak Singgalang. Dan itulah malam yang berkesan.(Ijs)
Sumber : indosiar.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar