Kamis, 17 November 2011

Benalu Maninjau dan Kelok Ampek-ampek

Beritahu Teman Anda Tentang Web Ini Print Download artikel ini dalam format PDF
Jika manusia mau sedikit saja belajar dari hikmah alam yang diberikan kepadanya, maka hidup ini barangkali akan lebih nyaman dilakoni. "Alam takambang jadi guru", pepatah Minang memberi petunjuk kearifan hidup.
Artinya, alam terkembang menjadi guru. Dari alam kita dapat belajar banyak hal, bukan saja untuk hidup dalam satu ekosistem yang menyejahtera kan, tetapi alam juga memberi kearifan dan kecerdasan yang luar biasa unggul. Pergi ke ranah Minang atau daerah-daerah pedalaman lain yang alamnya relatif masih belum terdera habis-habisan oleh ulah buruk
manusia-apabila kita jeli mengamati-akan kita dapati begitu banyak hal yang menuntun kita kepada kecerdasan hidup yang mengagumkan.
Beberapa waktu yang lalu Uda Jufrie, sahabatku dari ranah Minang, mengajakku memanjati punggung Bukit Barisan melalui "jalan menunju ke langit" Kelok Ampek-ampek yang menanjak terjal-meliuk tajam dari lembah Danau Maninjau sampai ke koto (artinya dataran) atap langit Puncak Lawang di wilayah Agam-kurang lebih 25 kilometer arah barat daya Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Elok nan menakjubkan tiada dua wilayah itu. Keelokan Danau Maninjau tak kalah dari keindahan danau-danau di Luzern, Zurich, atau Geneva (Swiss) yang terkenal di seluruh dunia.

Dari arah Padang, Kelok Ampek-ampek berada di ujung lingkaran Danau Maninjau, memanjat-meliuk tajam ke kiri ke kanan menapak langit Bukit Barisan. Sebaliknya, dari arah Bukittinggi, Kelok Ampek-ampek akan meliuk terjal menuruni punggung Bukit Barisan menuju lembah Danau Maninjau yang hijau makmur bagai lembah surgawi.
Dari lembah Maninjau, jalan tembus menjulang langit yang berkelok-kelok itu disebut Kelok Ampek-ampek karena berkelok-kelok naik menikung tajam sebanyak 44 kali. Sebenarnya ada lebih dari 44 tikungan tajam di sepanjang jalan tembus langit itu, tetapi beberapa kelok tak dihitung menjadi bagian dari Kelok 44, karena tak menanjak cukup tajam seperti ke-44 kelok yang sebenarnya.

Seluruh tikungan tajam yang berada di Kelok Ampek-ampek itu bersambung terus-menerus tanpa jeda sepanjang kurang lebih 10 kilometer. Dengan lebar jalan sekitar 3 sampai 3,5 meter tanpa median atau pagar pembatas di kiri-kanan tebing curam, jalan bikinan pemerintah kolonial Belanda itu menjadi jalan tembus Maninjau-Puncak Lawang-Bukittinggi.
Di Puncak Lawang itulah konon terjadi pertemuan bersejarah antara Tuanku Imam Bonjol dan mantan Panglima Perang Pangeran Diponegoro-Pangeran Alibasyah Sentot Prawirodirjo-untuk melanjutkan perlawanan bersama menentang pemerintah kolonial Belanda.
Etika Kelok Ampek-ampek
Karena ketajaman tikungan yang terjal berkelok-kelok naik terus-menerus tanpa henti, tak semua kendaraan pribadi maupun umum berani melewati jalan tembus langit itu. Apalagi di petang dan malam hari. Di samping kabut atau hujan akan menghadang kekelaman bukit, di kiri-kanan jalan sempit bertebing curam yang ditumbuhi pohon-pohon lebat yang tinggi-tinggi itu akan juga siap menjadi terminal akhir bagi para pengemudi kendaraan bermesin yang sembrono untuk berani melewati punggung Bukit Barisan tanpa kewaspadaan tinggi dengan kualifikasi teknik sopir kelas satu.

Telah sering terjadi kecelakaan fatal di daerah Kelok 44, semata-mata karena medan yang tak gampang dan kekhilafan sopir kendaraan. Kondisi mesin, ban, rem, kopling, persneling, lampu kendaraan, pembersih kaca depan-belakang- yang tak prima-menjadi penyebab utama kecelakaan yang berujung maut. Di samping keterampilan teknik dan pengalaman mengendara, diperlukan kesigapan reaksi mental dan kebugaran kondisi tubuh yang baik untuk menembus Kelok Ampek-ampek yang menakjubkan sekaligus menakutkan.
Sedikit saja meleng, tidak waspada, atau melanggar "aturan", maut akan siap menerima tamu Kelok 44 yang sembrono di jalan tembus langit itu. Maka bagi para pengendara di kelok maut yang menegangkan itu berlaku kesepakatan sopan santun dan aturan jalanan tak tertulis yang mutlak harus dipatuhi bersama.
Kiat aturan jalanan Kelok Ampek-ampek itu sederhana saja acuannya. Jika dua kendaraan atau lebih berpapasan, maka "aturannya" adalah karena yang datang dari bawah tak sepenuhnya bisa melihat yang datang dari atas, maka (kendaraan) yang datang dari bawah harus memberi kode kehadiran dengan membunyikan klakson berulang-ulang; sementara (kendaraan) yang datang dari atas harus stop (mutlak berhenti!) untuk memberi jalan (ruang bergerak) bagi (kendaraan) yang datang dari bawah. Jika kesepakatan dan aturan tak tertulis itu dilanggar, maka chaos akan segera terjadi, dan tebing maut adalah dendanya.
Itulah egalitarianisme mupakek (mufakat) ala Minang sebagai reaksi yang tumbuh karena kondisi alam yang harus dipahami. Kata-kata "kendaraan", "mutlak berhenti!", dan "ruang bergerak" sengaja ditulis dalam tanda kurung karena kita dapat belajar bahwa hikmah "aturan" tak tertulis Kelok Ampek-ampek itu sesungguhnya secara politik, sosial, dan budaya, etosnya dapat diterapkan secara umum. Yaitu bahwa "yang di atas harus memberi jalan bagi yang di bawah". Jabarannya jelas. Yang kuat harus melindungi yang lemah, yang kaya memberi yang miskin, yang kuasa mengayomi yang tak berdaya.
Saya menamai hikmah alam Bukit Barisan itu sebagai Etika Kelok Ampek-ampek, yang implikasi spiritnya menyangkut human solidarity, sistem egalitarian dan demokrasi yang saling menghormati. Dapatkah masyarakat dan pemerintahan baru yang dicita-citakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengambil hikmah Etika Kelok Ampek-ampek? Bila tak, alam Maninjau juga dapat memberi cermin kebatilan sebagai bias hidup yang tak baik untuk dianut.
Benalu Maninjau
Mulai dari lembah Maninjau yang subur dan menyejukkan itu, di kiri kanan sepanjang tanjakan Kelok Ampek-ampek tertancap pohon-pohon tinggi hutan tanaman, yang dari akar sampai pucuk rimbunan daunnya tak jarang menembus ketinggian daratan jalanan. Tinggi sekali pohon-pohon itu untuk bisa meraih sinar matahari dan mengisap embun basah udara.
Dengan seluruh batang, dahan dan rantingnya, pohon-pohon itu dari tancapan akarnya yang paling dalam di dasar tanah sampai pucuk-pucuk daunnya di ketinggian angin berjuang untuk mengisap energi kehidupan yang mereka perlukan untuk bisa hidup sebagai tanaman alami.
Betapa dramatisnya perjuangan hidup florani itu untuk menarik batang dan daun-daun dirinya tinggi-tinggi agar bisa mendekati sinar kehidupan matahari dan zat basah oksigen air dan udara di langit terbuka. Upaya itu tentulah bukan perjuangan yang sederhana karena mereka harus saling berebut kehidupan di antara sesama tumbuhan. Makin tinggi makin perkasa, kesannya.
Namun, di ketinggian pucuk batang-batang pohon yang tampak perkasa itu, tak jarang kita jumpai berbagai pohon benalu yang hijau subur bertengger melingkar pucuk batang, atau melilit-lilit batang pohon dari atas sampai ke bawah.
Pohon-pohon benalu yang tampak begitu subur kehijau- hijauan itu tak perlu banyak berjuang untuk hidup karena hajatnya disedot gratis dari pohon-pohon besar yang merintis hidup mereka dari bawah dasar tanah sampai ketinggian udara terbuka yang lega.
Alangkah nyaman dan gampangnya hidup benalu-benalu pohon itu. Kurang ajar. Mereka seperti penumpang kereta gratis tanpa tiket, atau penghuni rumah mewah serba service tanpa bayar. Alangkah nyamannya hidup benalu Maninjau itu?
Saya bertanya kepada Uda Jufrie, siapa tanam itu benalu? "Burung," jawabnya singkat. Burung-burung bertengger di ranting, daun, atau batang pohon. Kuku kakinya-secara tak sengaja-menancapkan akar pohon benalu yang terbawa secara alami, entah dari mana asalnya. Benalu-benalu tumbuh subur menjadi sarang berbagai jenis ulat dan insek daun dan kayu. Pada gilirannya, di sarang benalu itulah burung-burung menyantap ulat-ulat dan insek mangsanya untuk menyambung kehidupan, kata Bang Jufrie.
Terjadilah mekanisme siklus isap-mengisap kehidupan di antara pohon-benalu-ulat dan burung, kataku menyimpulkan.
Akan tetapi, batang pohon di mana benalu itu bertengger atau melilit adalah penderma sekaligus penderita tunggal dalam sistem siklus isap-mengisap kehidupan itu. Batang-batang pohon itu sama sekali tidak mendapat profit apa pun yang dapat dimanfaatkan bagi dirinya.
Siklus isap-mengisap "benalu Maninjau" inilah yang sering tercermin dalam kehidupan manusia. Pada beberapa pohon di hutan tepi Kelok 44, terlihat ada pucuk, daun, ranting, dan dahannya yang meranggas karena pengisapan benalu yang "tak tahu diri" itu. Kurang ajar! Sangat berbahaya dan tak boleh menjadi contoh hidup.
Siklus isap-mengisap benaluisme itu juga sedang terus berlangsung di negeri ini. Dalam konteks kehidupan nyata kita sehari-hari, batang pohon yang menjadi sumber sistem siklus isap-mengisap kehidupan itu adalah Tanah Air di mana republik dan negara ini didirikan.
Kepada sahabatku yang lain, Bang Rajab bin Fahmi al Atas, yang mengikuti piknik Danau Maninjau di bawah Kelok Ampek-ampek itu aku berfatwa, "Batang pohon yang menjadi pokok sumber pengisapan itu kita tahu adalah Tanah Air Republik ini. Cobalah abang cari tahu, siapa berperan sebagai benalu, siapa berperan sebagai ulat, dan siapa burung-burung penanam benalu dan pemangsa ulat itu, di negeri ini ?"
Pemimpin baru, pemerintahan baru, harapan baru, dan perubahan yang dijanjikan. Semoga "benalu Maninjau" yang banyak hidup dan tersebar di seluruh Republik ini tak menjadi contoh buruk yang semakin ditiru para pemimpin dan rakyatnya, karena benalu-benalu itu akan meranggaskan pohon- pohon perkasa yang tumbuh di hutan-hutan yang subur.
Sekilas perjalanan di ranah Minang, terpetik pelajaran berharga dari "Alam takambang jadi guru" dalam kiasan bertuah Etika Kelok Ampek-ampek dan benalu Maninjau.
SUKA HARDJANA Budayawan

Pesona Danau Kembar di Lereng Bukit Barisan

Sunday, 15 November 2009 07:00 administrator

Beritahu Teman Anda Tentang Web Ini Print Download artikel ini dalam format PDF
Oleh: Syofiardi Bachyul Jb/PadangKini.com

SUMATERA Barat provinsi yang kaya dengan danau. Ada lima danau di sini, Danau Maninjau, Danau Singkarak, Danau Diatas, Danau Dibawah, dan Danau Talang. Kecuali Danau Maninjau, empat danau lainnya terdapat di Kabupaten Solok.

Karena itu, Solok adalah kabupaten yang kaya dengan danau di Sumatera Barat. Bahkan, tiga danaunya, yaitu Danau Diatas, Danau Dibawah, dan Danau Talang terletak di sebuah kawasan yang disebut Kawasan Danau Kembar.

Disebut Kawasan Danau Kembar, karena dua danau, yaitu Danau Diatas dan Danau Dibawah terletak berdampingan yang jaraknya hanya sekitar 300 meter. Kawasan ini lebih dulu dikenal sebagai objek wisata karena terletak di pinggir jalan raya Padang-Muaralabuh-Kerinci.

Sedangkan Danau Talang berada sekitar 4,5 km dari kedua danau ini. Lokasinya yang berada di pinggang Gunung Talang dan jauh dari jalan raya membuat danau ini juga pernah dikenal sebagai objek wisata. Sayang letusan Gunung Talang dalam tiga tahun terakhir membuat danau ini tak bisa dikunjungi, karena masih merupakan area terlarang ke sana.

Meski memiliki tiga danau vulkanik ini, Pemerintah Kabupaten Solok menamai kawasan yang terletak di Kecamatan Lembang Jaya dan Kecamatan Lembah Gumanti ini sebagai Kawasan Wisata Danau Kembar.

Kawasan tersebut saat ini sedang dikembangkan sebagai objek wisata andalan. Tidak saja objek wisata andalan Solok, bahkan juga andalan Sumatera Barat.

Untuk mencapai kawasan ini sangat mudah. Dari Kota Padang kita bisa naik bus antarkota dalam provinsi menuju Alahan Panjang atau Muaralabuh dengan ongkos Rp10.000.

Jarak 60 km ditempuh selama 1,5 jam dengan jalan yang berkelok-kelok. Dalam perjalanan kita dapat melihat lokasi Pabrik PT Semen Padang yang merupakan pabrik semen tertua di Sumatera dan hamparan perkebunan teh PT Perkebunan Nusantara VI Kebun Danau Kembar. Jika perjalanan ditempuh dengan kendaraan pribadi, hanya sekitar 1 jam.


Pemandangan Sepanjang Jalan

Menjelang sampai di lokasi udara akan terasa dingin dan kita sudah dapat menyaksikan Danau Diatas di sebelah kanan dari jendela mobil. Jika dengan bus umum kita harus turun di Pasar Simpang. Di sini ada dua simpang, simpang di kanan dengan jalan menurun merupakan jalan ke Danau Diatas, di mana danaunya terlihat dengan jelas karena berada di bawah.

Sedangkan simpang lainnya yang berada di kiri merupakan jalan mendaki. Jalan ini menuju Danau Dibawah. Nama kedua danau yang kontradiktif dengan lokasinya ini, sering membuat pengunjung bertanya, kenapa danau yang terletak di atas bukit dinamakan Danau Dibawah, sedangkan yang berada di bawah bukit atau di bawah jalan dinamakan Danau Diatas.

Itu karena meski terletak di atas bukit, ketinggian permukaan air Danau Dibawah sama tingginya dengan dasar danau Danau Diatas.

Danau Diatas dengan luas 17,20 meter persegi, panjang 6,25 km dan lebar 2,75 km, permukaan airnya berada pada ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut (m dpl). Danau ini cukup dangkal, dengan bagian terdalam hanya 44 meter.

Sedangkan permukaan air Danau Dibawah berada pada ketinggian 1.566 mdpl. Artinya, permukaan airnya sama tinggi dengan dasar air Danau Diatas. Namun, danau yang memiliki luas 16.90 meter persegi, panjang 5,62 km dan lebar 3,00 km ini sangat dalam, yaitu 886 meter.

Begitu turun dari bus di Simpang kita bisa naik ojek ke Danau Diatas atau Danau Dibawah. Tarifnya sama, yaitu Rp2.000. Biasanya pengunjung memilih pergi ke Danau Diatas lebih dulu dengan karcis masuk Rp1.500 untuk anak-anak dan Rp2.000 untuk dewasa.

Di sini ada sejumlah kapal motor angkutan milik pengusaha lokal yang digunakan sebagai transportasi antar desa di sekitar danau. Kapal-kapal ini alat vital bagi petani sayur dan buah di seberang danau untuk membawa hasil pertaniannya ke Pasar Simpang. Dermaga kapal ini dikelola Angkutan Sungai, Danau, dan Perairan (ASDP).

Setiap saat kita bisa ikut naik kapal ini menuju salah satu desa untuk kemudian kembali dengan tarif pulang-pergi hanya Rp2.000. Kita bisa menyaksikan luasnya Danau Diatas dengan bukit-bukit kecil yang merupakan bagian Bukit Barisan yang mengelilinginya. Terlihat juga keramba ikan milik penduduk.

Pada Minggu atau hari libur biasanya salah satu kapal ini melayani rute wisata, yaitu keliling danau dengan tarif Rp5.000 per orang.

Tak jauh dari dermaga ada tempat yang sering dijadikan arena pemandian oleh pengunjung, terutama anak-anak. Di sekitar itu juga ada lapangan kecil di bawah rindang pohon pinus yang sering digunakan untuk berbagai kegiatan oleh pengunjung.


Tak Bisa Keliling di Danau Dibawah

Berkeliling dengan kapal tidak bisa kita nikmati di Danau Dibawah. Danau ini dikelilingi sejumlah bukit yang besar dan air danau sangat jauh dari lokasi pemandangan yang dibangun pemerintah. Tak seperti di Danau Diatas, kita tidak bisa menyentuhkan tangan atau kaki ke dalam air. Hanya saja pemandangannya indah. Dari panorama ini kita juga bisa melihat Danau Diatas.

Di panorama Danau Diatas ini ada warung-warung kecil yang berjualan markisa dan terung belanda sebagai buah-buahan khas daerah ini. Juga ada yang menjual aneka bunga gunung di dalam pot kecil hingga besar. Satu pot harganya Rp5.000 hingga Rp15.000.

Ada juga yang menjual bunga kering sari gunung untuk hiasan. Bunga kering ini dikeringkan dari sejenis bunga rumput yang tumbuh di rawa di sekitar danau. Bunga rumput ini hanya muncul sekali setahun di Danau Diatas. Cara mengolahnya diambil dan dijemur, sehingga keluar sari bunganya. Seikat harganya Rp5.000 sampai Rp15.000.

Usai melihat kedua danau ini, sebenarnya kita bisa pergi ke Danau Talang yang terletak di atas bukit. Kita bisa menyewa ojek dengan tarif Rp10.000 pulang-pergi. Danau Talang luasnya 1,30 km per segi dengan panjang 1,5 km dan lebar 88 m. Di Danau Talang udara terasa lebih dingin dan suasananya sunyi.

Sayang, karena danau ini terletak dekat kawah Gunung Talang yang sedang aktif dan sering meletus, kawasan ini sedang tertutup buat pengunjung. Selain itu, pemandangan terakhir danau ini sudah tertutup abu letusan Talang.

Kawasan Danau Kembar juga terkenal penghasil sayur-mayur seperti wortel, kubis, dan kol bermutu tinggi. Selain itu juga penghasil buah markisa dan terong belanda. Sedikitnya setiap tahun sekitar 45 ribu wisatawan domestik berkunjung ke tempat ini. Namun kunjung wisatawan asing hanya sekitar 500 orang per tahun.

Pemerintah Kabupaten Solok saat ini sedang berupaya mengembangkan kawasan ini menjadi objek wisata yang menarik. Pemerintah Kabupaten Solok sudah membangun resort pinggir danau di Lembah Gumanti, yaitu salah satu sisi terindah Danau Diatas.

Di sini ada convention hall berkapasitas 800 orang disewakan untuk berbagai acara dengan tarif per hari Rp200 ribu. Sedangkan fasilitas penginapan, dua vila besar tingkat dua dari semen dengan tiga kamar lengkap dengan ruang tamu dan dapur dengan tarif Rp250 ribu per malam.

Selain itu ada dua vila kecil dari kayu dengan satu kamar. Tarif satu vila per malam Rp125 ribu. Juga tersedia 10 cottage, yang tiap cottage tarifnya Rp100 ribu per malam.

Pemkab Solok sedang mengembangkan kawasan wisata Danau Kembar yang memiliki tiga danau ini menjadi kawasan wisata agro di mana pengunjung bisa menikmati danau sambil menikmati pemandangan hamparan kebun sayur-mayur, buah-buahan, dan perkebunan teh.

Perkebunan teh milik PT Perkebunan Nusantara VI sendiri yang hanya berjarak sekitar 15 km dari Danau Kembar juga menjadi lokasi agrowisata. Di sini tersedia guest house, lapangan tenis, lapangan bola, home stay, dan jalur jalan kaki di tengah hamparan kebun teh yang terletak di lereng Gunung Talang itu.

Sayang home stay sekarang tak lagi ada. Dua tahun lalu home stay masih nyaman dengan sewa semalam Rp150 ribu sudah termasuk makan pagi. Karena tak ada yang mengurus secara khusus di perusahaan, home stay ini terlantar. Meski begitu, lokasi perkebunan teh ini ini sangat cocok digunakan sebagai tempat liburan bersama keluarga. Bahkan hampir setiap akhir selalu ada pelajar atau pegawai instansi yang berkembah di sana. **
di copy dari Padangkini.com

Telaga Dewi di puncak gunung Singgalang

Friday, 13 November 2009 07:00 administrator

Beritahu Teman Anda Tentang Web Ini Print Download artikel ini dalam format PDF
Inilah Telaga Dewi yang mengakhiri perjalanan pada track ketiga. Permukaan air telaga sangat tenang dan suhunya sangat dingin, serta terasa sangat sunyi. Telaga Dewi berada diketinggian 2760 meter dari permukaan laut. Luasnya sekitar 1 hektar. Bila tiba di telaga ini, berarti sebenarnya sudah berada di puncak Singgalang, kendati puncak yang sebenarnya masih satu jam lagi pendakian.
Biasanya, banyak pendaki yang mendirikan perkemahan di sekitar telaga, karena tersedianya air tawar yang sangat melimpah. Telaga Dewi adalah bekas kawah yang ketika itu Gunung Merapi Singgalang, masih aktif. Dan udara cerah, hanya sesekali saja.
Dan ketika kabut reda, kami secepatnya memutuskan meninggalkan Telaga Dewi ini menuju puncak bukit Singgalang. Dibandingkan ketiga track yang sudah kami lalui, track terakhir ini cenderung lebih mudah.
Tidak ada lagi tanjakan terjal yang menguras tenaga, hanya harus waspada karena jalur ini berlumut dan banyaknya batang kayu yang rubuh dan saling tumpang tindih. Disini tumbuhan lumut memang luar biasa lebat dan luas. Seolah pemandangan disini membawa Kami menerobos lorong waktu dan tiba pada jaman purba di era tundra, berjuta-juta tahun yang lalu. Biopita atau lumut ini, ikut berperan pada pembentukan tanah.
Yang menarik di puncak ini adalah kurangnya sinar matahari akibat terhalang rapat pepohonan, sehingga udara semakin lembab dan tempat yang cocok bagi tumbuhnya lumut. Lumut adalah tumbuhan yang unik. Yang mampu melakukan fotosinthesa dengan cepat tanpa memerlukan bantuan sinar matahari yang banyak.
Namun selain indah dan menakjubkan, luasnya areal lumut ini mampu menjerumuskan pada daratan tak berujung. Karena jarak pandang tersamar oleh daratan yang bentuknya sama. Dan inilah, akhir pendakian Kami, puncak Gunung Singgalang. Setelah mendaki lebih dari 8 jam, sejak dari Pandai Sikek, kami berhasil menjejakkan kaki pada ketinggian 2877 meter.
Rasa capai hilang serta merta ketika berada di puncak. Tidak ada lagi pepohonan dan batu cadas, yang menghalangi pemandangan. Udara sangat dingin, bahkan menurut pemandu, pada saat-saat tertentu bisa mencapai 5 derajat celcius.
Dari permukaan yang tidak terlalu luas ini, pemandangan Kota Bukit Tinggi dan Ngarai Sianok menjadi sangat menarik. Dari sini juga kami bisa melihat puncak Gunung Merapi yang seolah berdiri sama tinggi dengan Gunung Singgalang. Sama seperti gunung merapi di Pulau Jawa, Gunung Merapi Sumatera juga masih aktif. Dari puncak Singgalang ini, Kami bisa melihat asap tipis keluar dari kawahnya. Kami pun menginap semalam di puncak Singgalang. Dan itulah malam yang berkesan.(Ijs)
Sumber : indosiar.com

Komodo Sayang, Komodo Menang



lolosnya Pulau Komodo menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia yang baru atau sering disebut dengan New 7 Wonders, tentunya membanggakan kita semua. Tidak sia-sia usaha rakyat Indonesia untuk bisa meloloskan pulau Komodo menjadi salah satu keajaiban dunia dan sejajar dengan tempat-tempat indah lainnya di dunia, di antaranya. Jeju Island di Korea Selatan, Underground River di Filipina, Grand Canyon di Amerika, dan sebagainya.

Emang sih awalnya sempat ada kontroversi karena keraguan terhadap yayasan New7Wonders yang dianggap tidak resmi. Namun itu semua tidak membuat dukungan terhadap pulau Komodo berkurang. Nah, pelajar Makassar pun tidak mau ketinggalan untuk mendukung pulau Komodo. Sebut saja Siti Fatimah Sukardi Siswi kelas XII IPA 3 SMAN 6 Makassar ini memberikan dukungannya dengan memprogramkan Vote Komodo minimal seratus kali perhari bersama teman-teman sekelasnya.

Nah, tambahnya lagi, lolosnya pulau Komodo ini, bisa mendongkrak pariwisata negara Indonesia. Karena dengan masuknya Komodo ke dalam daftar tujuh keajaiban alam dunia maka tentu saja masyarakat dunia penasaran dengan pulau ini, dan akhirnya mereka tertarik untuk berkunjung. "Sangat bangga yah, Negara kita bisa terkenal memiliki banyak tempat wisata tidak hanya Bali. Dan semakin banyaklah turis yang datang, dan tentu saja akan menambah devisa negara," aku dara kelahiran 17 November 1994 ini.

Lain pula dengan Rakestho Adrian Putra. Siswa SMKN 7 Makassar kelas XII Akuntansi ini pun merasa puas. Bagaimana tidak, perjuangannya selama ini dalam mengkampanyekan vote Komodo gak sia-sia. Doi, pun rela berkeliling di setiap kelas di sekolahnya untuk mengajak teman-temannya untuk memberikan dukungan untuk pulau Komodo.

Tambahnya lagi, Indonesia pasti bangga. Karena beberapa tahun yang lalu juga Indonesia masuk dalam daftar tujuh keajaiban dunia lewat Candi Borobudurnya. "Pastinya sangat senang sekali. Indonesia pun bisa terkenal lagi mempunyai keajaiban dunia, setelah Borobudur," ungkap cowok yang bercita-cita menjadi diplomat ini.

Kalau menurut Jessie Ratnasari lain lagi, doi pun mengatakan kalau Pulau Komodo memang pantas dipilih, karena memang Komodo adalah binatang purba yang harus dilindungi, apalagi karena Komodo merupakan binatang satu-satunya di dunia dan hanya ada di Indonesia.

"Emang yah, selain pulaunya yang terkenal indah. Komodo pun merupakan hewan langka yang habitatnya hanya ada di pulau Komodo di Indonesia, jadi memang sangat pantas untuk menjadi salah satu dari 7 keajaiban alam dunia," ungkap Siswi SMKN 7 Makassar ini. (rez)

Peraih emas pertama Indonesia

Minggu, 02 Oktober 2011

7 Pesona Teratas Ho Chi Minh City

Pusat dari kekuatan ekonomi yang sedang naik daun di Asia Tenggara, Ho Chi Minh City adalah salah satu kota paling menarik di planet ini, tempat bercampurnya budaya Prancis dengan Timur, dan tempat Perang Vietnam masih dikenang seperti baru terjadi kemarin. Dan dengan kemunculan gedung pencakar langit, tempat-tempat menonjol serta dunia mode, inilah waktu paling tepat untuk berkunjung yang masih sangat hidup di tengah resesi global.

Photo credits - Christian Haugen

Keaslian Vietnam

Masakan Vietnam mulai populer di seluruh dunia, tetapi belum ada tempat yang lebih baik daripada Ibu Kota negara itu untuk menyicipinya. Bergabunglah dengan Bill Clinton untuk makan pho di Pho2000 dekat Ben Thanh Market, yang dengan bangga menyatakan pho-nya layak untuk presiden, lengkap dengan berbagai foto ketika Presiden Bill Clinton menikmati semangkok pho di restoran ikonik itu. Menu di restoran itu sangat banyak dan bervariasi, dan penuh oleh penduduk lokal serta turis. Bagi mereka yang mencari makanan fusion, pergilah ke Xu Bar, bukan hanya menjadi unggulan kehidupan malam di kota itu, tetapi juga merupakan tempat Chef Nyuyen
berupaya untuk menghidupkan lagi masakan tradisional Vietnam.

Photo credits - williamcho

Kopi dan Café

Ho Chi Minh City terang oleh berbagai lampu di malam hari, memberikan atmosfer santai yang mendukung kemunculan kafe-kafe di sepanjang jalan. Vietnam adalah salah satu produsen kopi unggulan di dunia, pecinta kafein akan menemukan diri mereka di surga
aroma, menyicipi berbagai macam kopi lokal. Cara ampuh untuk menyegarkan diri dan bersantai, pilihlah kafe secara acak di sudut jalan dan pesanlah secangkir kopi lokal. Duduk dan menikmati sambil Anda bermalas-malas diri melihat pejalan kaki yang lewat.


Photo credits - alex.ch

Berpetualang di Kota

Selain berbagai kafe untuk bersantai dan menghabiskan waktu, Ho Chi Minh juga memiliki bar modern yang menjadi favorit bagi para penduduk lokal dan ekspatriat. Q Bar, Saigon Saigon Bar, Xu Bar, Lush dan Velvet hanyalah beberapa tempat dari daftar panjang yang sering digunakan untuk nongkrong dan pesta, masing-masing memiliki ciri khas dan daya tariknya.

Photo credits - Eustaguio

Penanda Kota

Cukup mudah untuk bepergian di kota metropolitan Ho Chi Minh dengan berjalan kaki, terutama karena tempat-tempat menarik terletak di Distrik Satu. Mulailah dengan Katedral Notre Dame, sebuah bangunan bata merah yang dihiasi kaca patri, kemudian langkahkan kaki anda ke Saigon Central Post Office, sebuah bangunan kolonial Prancis dengan interior klasik.

Tempat itu juga mengoperasikan semua layanan pos dari kota dan tempat terbaik untuk membeli kartu telepon. The Opera House adalah sebuah tempat yang menggambarkan kota, menampilkan perpaduan opera barat dan pertunjukan tradisional Vietnam. Sementara itu, Reunification Palace adalah rumah mantan pemimpin Viet Cong yang namanya diadopsi menjadi nama kota itu, sebuah bangunan kolonial yang menghadap ke pusat kota.

Photo credits - williamcho

Geng Bermotor

Setelah menjelajahi tempat paling ikonik di Distrik Satu dengan berjalan kaki, sewalah sepeda motor untuk menyusuri jalanan dan merasakan moda transportasi yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Vietnam. Para penglaju Vietnam bepergian menggunakan motor, dan meskipun moda ini bukan yang paling aman, tapi merupakan kendaraan paling autentik di Vietnam.

Photo credits - nerdcoregirl

Sisa-sisa Perang

Salah satu atraksi turis yang paling digemari di Vietnam, Chu Chi Tunnels adalah jaringan bawah tanah yang dibangun selama perang Vietnam. Memiliki panjang sekitar 121 km, pengunjung bisa mengambil tur dan melihat sendiri kondisi saat Vietcong mengobarkan perang berdarah terhadap AS. Museum Sisa Perang (War Remnant Museum) atau dikenal juga sebagai Museum Kejahatan Amerika adalah tujuan turis lain yang layak dikunjungi. Meski sangat bias dan satu sisi, tapi tempat ini memberikan wawasan penting tentang reaksi Vietcong terhadap perang.

Photo credits - functoruser

Belanja

Selain makan, sebagian besar pengunjung kota nomor satu Vietnam ini menghabiskan sebagian besar waktu mereka dengan berbelanja. Ben Thanh Market merupakan pasar utama di Ho Chi Minh dan tempat untuk mencari souvenir. Ada banyak pilihan t-shirt dengan tulisan seperti "Good Morning Vietnam" dan "Miss Saigon" sampai bordiran dan ornamen kayu berpernis, dan untuk mereka yang suka kopi, ada beberapa biji kopi terbaik di wilayah ini. Para wanita akan ingin mencoba Ao Dai, baju nasional Vietnam, yang terbaik di wilayah ini, menggabungkan celana dan gaun.

Paradiso Tersembunyi Tanah Pasundan Thu May 5 18:56pm



Oleh Olenka Priyadarsani

Green Canyon berada di Cijulang, Jawa Barat, yang berjarak sekitar 285 km dari Jakarta (31 km dari Pantai Pangandaran).

Tempat ini merupakan sekelompok gua, dengan stalagtit dan stalagmit yang tersembunyi di balik tebing-tebing hijau — mungkin itulah mengapa dinamakan Green Canyon, pelesetan dari Grand Canyon di Amerika Serikat. Orang setempat biasa menyebutnya Cukang Taneuh.

Untuk menuju ke gua, Anda harus menuju dermaga dan membeli tiket. Bila pergi pada saat hari libur (apalagi akhir pekan yang panjang), bisa dipastikan Anda harus menunggu beberapa jam hingga mendapat giliran menaiki perahu menuju gua.



Perahu-perahu wisata yang dioperasikan adalah milik masyarakat setempat, namun diatur oleh pemerintah kabupaten. Satu perahu dapat mengangkut hingga lima penumpang dengan harga sewa Rp 75.000. Bila ingin berenang di gua, Anda dapat menyuruh awak perahu menunggu, tentu dengan biaya tertentu.

Mereka akan meminta Rp 100.000 untuk seharian penuh, namun tentunya Anda tidak akan menghabiskan satu hari di sana. Tawarlah, mungkin Anda bisa mendapatkan Rp 80.000 di musim liburan dan Rp 50.000 ketika sedang sepi pengunjung.

Masing-masing perahu selalu menyediakan pelampung untuk penumpangnya, sehingga bila Anda kurang pandai berenang, jangan terlalu khawatir. Para pelancong biasanya juga memanfaatkan batu-batu gua untuk melompat ke air yang jernih.

Tempat ini masih bebas polusi, pemandangannya pun indah.

Apabila Anda tidak suka berenang, Anda dapat memanfaatkan waktu menikmati pemandangan, juga mengambil gambar. Sebelum pintu masuk gua, terdapat sebuah dermaga kecil yang biasanya digunakan oleh perahu untuk menunggu. Di sana ada beberapa pedagang yang menjual minuman dan makanan kecil.

Salah satu kekurangan dari Green Canyon adalah pemeliharaannya yang masih kurang baik, mungkin karena tempat ini merupakan objek wisata yang relatif baru. Di sini, hanya ada tiga toilet dan sebuah mushola kecil, padahal pada saat liburan pengunjung dapat mencapai hingga ratusan orang.

Namun, penduduk setempat mengambil untung dengan cara menyediakan kamar-kamar kecil dan tempat sholat yang lebih layak, hanya dengan tarif Rp 2.000. Tempat parkir yang ada di seberang dermaga cukup luas, dengan biaya Rp 3.000 untuk sehari penuh.
Di sekeliling area parkir terdapat deretan warung yang menjual nasi dan ikan bakar serta kelapa muda. Mungkin Anda juga ingin menikmati makanan lokal seperti lotek, karedok dan rujak tumbuk. Selain harganya murah, sangat cocok untuk mengisi perut setelah lelah bermain di gua!


Berperahu melewati tebing-tebing di kawasan Green Canyon. Kredit foto: Tempo/Aditya Herlambang Putra.

Menuju Green Canyon


Dengan mobil pribadi, dari Jakarta Anda dapat melalui tol Cipularang menuju Bandung. Keluar tol di Cileunyi, ikutilah jalan Ciawi-Nagreg menuju Tasikmalaya. Sebelum Rajapolah, Tasikmalaya, beloklah ke kanan dan ambil rute Ciamis-Banjar. Dari sana Anda akan melihat tanda-tanda yang menunjukkan arah ke Pangandaran. Waktu tempuh Jakarta-Cijulang 6-7 jam.

Apabila Anda akan menempuh perjalanan dengan kendaraan umum, dari Terminal Kampung Rambutan, PO Budiman menyediakan bus jurusan Pangandaran. Dari Grogol dan Tangerang juga ada beberapa bus yang melayani rute ini. Sesampainya di Pangandaran, Anda harus berganti bus yang menuju Cijulang. Terminal Cijulang berada sekitar 1 km dari Green Canyon.

Selain jalur darat, terdapat pula penerbangan Jakarta-Pangandaran melalui Bandung sehari sekali dari maskapai Susi Air. Anda sebaiknya memesan tiket jauh-jauh hari.

Informasi lainnya


Lebih baik Anda menyiapkan uang tunai yang cukup, karena ATM terdekat berada sekitar 1 km dari Green Canyon — di Bank BRI tepat di seberang kantor kecamatan Cijulang. Penduduk lokal yang saya temui mengatakan, mesin tersebut sering kehabisan uang tunai.

Bila hal itu terjadi, Anda akan terpaksa menempuh sekitar 4 km untuk mendapatkan mesin ATM berikutnya. Tentu Anda tidak ingin ini terjadi bukan?

Para pengunjung juga dapat melakukan body rafting di sekitar Gua Kelelawar. Aktivitas ini dikelola oleh para awak perahu bekerjasama dengan karang taruna desa setempat. Katakan pada awak perahu  bahwa anda ingin melakukan body rafting dan mereka akan mengantar anda ke tempatnya. Waktu yang dibutuhkan sekitar 3-4 jam dan tentu saja dengan biaya tambahan

Tidak ada akomodasi di sekitar Green Canyon. Hotel paling dekat adalah di Panireman Riverside bibir sungai menuju ke Pantai Batu Karas, sekitar 15 menit dari Green Canyon. Hotel-hotel lain berada di sekitar Pantai Batu Karas, tempat wisata yang akan dibahas pada tulisan selanjutnya.